Langganan

Akademisi dan Pemerhati Anak Soroti Kasus Guru Bully Siswa Sragen - Espos Indonesia dari Solo untuk Indonesia

by Galih Aprilia Wibowo  - Espos.id Solopos  -  Selasa, 15 November 2022 - 18:46 WIB

ESPOS.ID - Ilustrasi ajakan menghentikan bullying atau perundungan. (Freepik.com)

Esposin, SRAGEN — Kasus perundungan atau bullying yang terjadi SMAN 1 Sumberlawang, Sragen, membuat publik prihatin. Pemaksaaan penggunaan jilbab di lingkungan pendidikan masuk dalam kategori diskriminasi, serta menjadi bentuk intoleransi.

Hal ini disampaikan oleh sosiolog dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Akhmad Ramdhon, saat dihubungi Esposin, pada Selasa (15/11/2022). "Pemaksaan penggunaan jilbab itu menyedihkan, karena situasi tersebut semestinya tidak terjadi dalam lingkup pendidikan. Pendidikan mestinya berkomitmen mendidik dan mempromosikan nilai-nilai toleransi maupun keberagaman sebagai dasar nilai pendidikan kebangsaan," terang Ramdhon.

Advertisement

Kasus pemaksaan penggunaan jilbab ini sudah dua kali terjadi di Sragen. Ia menilai hal tersebut merupakan hubungan kasuistik yang merujuk hal personal bersinggungan dengan rasa keberagaman beragama.

Jika merujuk Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015, kata Ramdhon, tindakan pemaksaan penggunaan jilbab masuk dalam kategori diskriminasi. Padahal sekolah sedianya dirancang sebagai tempat aman, nyaman, dan menyenangkan, sekaligus terhindarkan dari tindak kekerasan. Oleh karena itu, sikap dan praktik penghargaan kepada keberagaman nilai yang dianut anak menjadi penting.

Baca Juga: Lagi, Guru Bully Siswa Gara-Gara Tak Pakai Jilbab di Sragen, Nihil Solusi

Advertisement

"Dalam konteks ruang lingkup sekolah, kewenangan dinas terkait menjadi penting unruk melakukan pendampingan dan pengawasan. Dalam konteks pengawasan tersebut, maka kerja sama dinas, sekolah, dan masyarakat menjadi krusial sebagai upaya pencegahan," tambahnya.

Sementara Direktur Yayasan Kakak Solo, Shoim Sahriyati, mengatakan dalam kasus pemaksaan pemakaian jilbab tersebut, ada dua hal yang terjadi yaitu bullying atau perundungan dan intoleransi.

Advertisement
Advertisement
Kaled Hasby Ashshidiqy - Jurnalis Solopos Media Group, menulis konten di media cetak dan media online.
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif